Founders ESQ Business School : Prof. Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat dan Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian

Menghadapi krisis multidimensi yang terjadi di tanah air, dimana semua krisis tersebut berakar dari Krisis Moral dan minimnya Perguruan Tinggi yang mengedepankan pendidikan karakter kepada mahasiswanya melatarbelakangi Bapak DR. (HC) Ary Ginanjar Agustian dan (alm). Prof. Ir. Surna Tjahya Djajadiningrat Ph.D untuk mendirikan sebuah sekolah yang mendidik mahasiswanya untuk cerdas secara intelektual, emosial dan spiritual.

Sekolah berbasis pendidikan karakter ini difokuskan dalam pengusaan bisnis mengingat Indonesia sampai hari ini masih kekurangan wirausaha-wirausaha muda sebagai penggerak ekonomi bangsa. Disamping itu ketersediaan SDM profesional yang memiliki karakter masih banyak dibutuhkan oleh banyak perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri.

Maka ESQ Business School  mendidik mahasiswanya untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, yang memiliki kemampuan mengelola bisnis sekaligus mengenalkan Tauhid kepada Allah sebagai landasan utamanya dalam kehidupan. Akhirnya pada tanggal 5 Desember 2012, berdirilah ESQ Business School. Sebuah Kampus Bisnis berbasis Pendidikan Karakter.

Sekilas tentang Pendiri ESQ Business School

(Alm.) Prof. Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat memperoleh gelar doktor dalam bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan dari University of Hawaii tahun 1982. Sebelum menamatkan pendidikan Magister di University of Hawaii tahun 1980. Pernah menjabat di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai Kepala Badan Pendidikan & Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Direktur Jenderal Pertambangan Umum (2000 – 2001) serta Staf Ahli Menteri Pertambangan dan Energi Bidang Lingkungan Pertambangan (1999 – 2000), ia kemudian bergabung dengan Dewan Riset Nasional untuk periode 2000 – 2004.

Proses pendirian ESQ Business School tak lepas dari andil ia. Keinginannya itu didasari oleh persamaan visi, yaitu terbentuknya generasi muda yang berkarakter.[3]  Dengan mendirikan ESQ Business School baginya sama saja dengan membangun generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan berkebangsaan. Bangsa yang besar, lanjutnya, adalah bangsa yang berilmu, berkarakter, dan berkebangsaan.[3]

Surna Tjahya Djajadiningrat juga menambahkan, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa orang yang berhasil itu kecerdasan intelektualnya hanya 20 persen, sedangkan 80 persennya ada di kecerdasan emotional dan spiritual. Itulah yang ingin dibangun di ESQ Business School.[1]

Menurutnya, bangsa Indonesia telah kehilangan ruhnya, karena kehilangan ruh akhirnya kehilangan identitas. “Kita kehilangan identitas. Bangsa yang kehilangan identitas tak akan maju. Jadi di ESQ Business School ini kita harus membangun wawasan berkebangsaan, jiwa yang kreatif berlandaskan spiritual dan kemampuan intelektualnya,” paparnya.[1]

Dr. H.C Ary Ginanjar Agustian

Ary Ginanjar Agustian, lahir di Bandung, Jawa Barat, 24 Maret 1965 adalah seorang motivator Indonesia , yang juga seorang tokoh pembangunan karakter dan penggiat transformasi budaya perusahaan. Ia juga presiden direktur dari PT Arga Bangun Bangsa serta pendiri ESQ Leadership Center, pusat penyelenggara program pelatihan ESQ.

Ia telah berkecimpung di dunia bisnis selama lebih dari 25 tahun. Melalui pengalaman nyata dalam dunia bisnis, buku-buku yang dipelajari, serta perenungannya, ia menulis sebuah buku yang sangat fenomenal “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual”.

Di dalam buku tersebut ia menyampaikan gagasan bahwa kecerdasan Intelektual (IQ) saja tidak cukup. Untuk menjadi seseorang yang berhasil diperlukan juga kecerdasan emosional (EQ), yang akan memberikan keterampilan dalam bersosialiasi dan berhubungan dengan orang lain, serta kecerdasan spiritual (SQ) yang akan memberikan jawaban atas eksistensi diri.

Untuk menggabungkan ketiga kecerdasan tersebut, dirancanglah sebuah konsep yang disebutnya The ESQWay165, yaitu sebuah konsep pembangunan karakter yang komprehensif dan integratif berdasarkan 1 nilai universal, 6 prinsip pembanguan mental, dan 5 langkah aksi.

Tahun 2007, ia mendapat gelar Doctor Honoris Causa di bidang pendidikan karakter oleh Universitas Negeri Yogyakarta sebagai penghargaan atas konsep The ESQWay165sebagai metode pembangunan karakter.

Selain di dunia bisnis, ia juga memiliki pengalaman di dunia pendidikan, yaitu sebagai pengajar tetap di Politeknik Udayana, Bali selama lima tahun.Ia menghabiskan pendidikannya di STP Bandung, Udayana Bali dan Tafe College, Adelaide, Australia.

Dan selain itu, ia juga pernah menjadi pengajar mata kuliah Strategi Pendidikan Karakter pada program pasca sarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Penghargaan dan Jabatan

Beberapa penghargaan dan jabatan yang pernah disandangnya adalah :

Bisnis pelatihannya melalui program ESQ telah melahirkan ratusan ribu alumni, dan telah diadakan di hampir seluruh kota di Indonesia, dan di Malaysia, Singapura, Brunei, Eropa, Amerika Serikat dan Australia.